Kamis, 26 April 2018

Tentang kamu, (bukan) dia!

hey apa kabar kamu. Kamu yang pergi karna alasan mengejar ridho ilahi padahal nyatanya sedang mencari tambatan hati. Ah bilang saja kalau sudah bosan. tak usah kau gunakan dalih atas nama Tuhan atau agama.
Ku kira kau benar akan perbaiki diri, tapi nyatanya kau justru berubah seperti orang baru. pikiran manusia memang berkembang tapi ku tak sangka dapat berputar secepat itu.
Semoga kau sadar, bahwa hidup ini tak hanya tuk dinikmati namun juga diresapi.
Hidup cuma sekali, maka hiduplah yang berarti. Dunia memang kadang membuat terlena, tapi apa kau tak lihat bahwa hidup ini terlalu luas untuk hanya sekedar mencari pasangan.
Aduhai kenapa terlalu cepat dan terburu-buru mencari pendamping yang hanya kau gunakan tuk singgah dan dipertontonkan ke semua orang. Tak perlu kau berjuang untuk cinta yang tak pasti sedang cinta haqiqi sering kau Lupakan?

Malam refleksi,
Daraditya.

Jumat, 20 April 2018

Dia agi

Masih dengan perasaan yang sama.
Masih dengan orang yang sama.
Namun sayang dia tak merasakan hal yang sama.
.
.
Kepada dia yang selalu membuatku tersenyum walau hanya sedetik. Yang membuatku kembali merasakan apa itu rasa di hati. Yang kembali mewarnai hati yang tlah lama mati.
.
.
Aku hampir tidak percaya kepada lelaki. Bukan karna ku anggap semua lelaki sama. Hanya aku saja yang sedang tidak mau membuka hati. Namun, setiap kamu hadir, kau buat hatiku berdesir. Setiap kantuk, ubah menjadi tawa batuk dan hangat yang memeluk.
.
.
aku baru saja pulang magang, lelah ingin rebah. Kesenggol mungkin saja aku marah. Namun semua sirna setelah kulihat notif ku yang tertampang namamu. Kau membuat senyum tak lepas dari wajahku. Kau buat aku lupa bahwa menunggu bis adalah sesuatu yang membosankan untukku. Bahkan kamu, membuat gairah menulisku menggelora. Iya, menulis tentangmu.
.
.

Senin, 16 April 2018

Dia Datang (lagi) !

Dia datang lagi.
Mewarnai deretan chatt wa ku. Memang bahasannya ringan, tapi ada magnet yang luar biasa. Dia tidak lakukan apapun. Tapi dia mampu membuatku meneteskan air mata. Dia menarik, buat jiwa dan ragaku melirik.
Wahai, alangkah cupunya aku. Aku bahkan tak kuasa menahan rasa bahagia meski dia hanya mengucap sapa. Bahkan tuk mengucap namanya dalam doa pun aku tak kuasa karna malu menyelimuti ragaku terlebih dahulu.
Untungnya, kita tak sering jumpa. Jadi aku bisa menata diri untuk tidak terbawa hanyut dalam perasaan yang salah. Dan untungnya, seabrek kegiatan dan tugas terlebih dahulu menguasai pikiranku sampai tak ada waktu untuk memikirkan masalah hati apalagi mencari tambatan hati.
Untuk dia, kamu sangat menarik menggelitik hati

 
DARAditya Blogger Template by Ipietoon Blogger Template